BELLAMORE
a Beautiful Love to Remember
13.5 x 20 cm - 264 pages
PT Gramedia Pustaka Utama
Synopsis
"But what do you do if you get horny?"
Demi Zeus dan para Dewa Yunani lainnya!!! What is it with this man?!!
Pria di hadapanku ini, yang kukenal belum sampai sebulan, bukan pacarku, bukan sahabatku, tidak juga punya hubungan darah apapun denganku, hanya rekan bisnis, tapi ingin mengetahui apa yang aku lakukan jika libidoku sedang naik?!?!
He's got to be kidding me!!!!
Awalnya nama Fabian Ferdinandi bagiku sama artinya dengan kejengkelan yang tak berujung. Pria Italia itu sangat tahu bagaimana membuat seluruh syaraf dalam tubuhku menegang cepat dan membuat setiap percakapan kami berakhir dengan kemarahan di pihakku. Namun yang paling menyebalkan buatku adalah Fabian sangat tahu bagaimana membuatku tampak seperti alien karena di usiaku yang telah dua puluh tujuh tahun ini, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan virginity-ku. Suatu hal yang menurutnya sangat absurd untuk wanita sepertiku.
Setidaknya begitulah. Sampai akhirnya waktu memisahkan dan mempertemukan kami lagi pada suatu pagi yang beku di Time Square. Namun seiring musim berganti di New York, aku pun harus menghadapi kenyataan mengejutkan tentang Fabian. Dan perasaanku terhadapnya.
------------------------------------------------
Excerpt
"I guess God simply wants me to meet many wrong
people before I meet the right one."
"I won't cry because it came to an end,
But I will smile because it happened."
Bab 3
"God! What is it with men and their penis?!" seruku putus asa dan sekaligus muak dengan topik percakapan yang benar-benar tidak bermutu itu.
"Nothing. They just get hard easily."
Fabian pun melipat tangan dengan santai, sementara kedua mataku seakan ingin meloncat keluar.
They just get hard easily?! Oh Tuhan! Adakah jawaban yang lebih tanpa tending aling-aling seperti itu?! Yang lebih sableng? Lebih sinting?! Kalaupun ada, aku yakin pasti hanya Fabian yang sanggup menemukannya. Pria itu benar-benar tahu bagaimana merangkai kata-kata yang tepat dan membuatku terbelalak tak habis pikir saat mendengarnya.
"Itulah masalahnya! Pria terlalu gampang dikontrol penis mereka. Seharusnya otak pria ditaruh di penis mereka, bukan di kepala," ujarku tandas.
"Now, that's a great idea!"
"Bukan itu maksudku," balasku geram karena merasa ia tidak menanggapi dengan serius maksud pernyataanku tadi. "Seharusnya pria lebih bisa mengendalikan berahi mereka. That's what I mean!"
"Memangnya gampang menahan gejolak berahi kamu?"
"Aku tidak bilang gampang, tapi kalau berusaha pasti bisa. Itu sebabnya manusia punya akal, bukan hanya otak seperti binatang."
Oke, berarti selama ini yang kamu lakukan adalah berusaha keras menahan gejolak berahimu yang mengatakan agar bercinta denganku. Begitu, kan? That's what you really mean right?"
"Hey, I don't wanna have sex with you, okay?!"
Bab 7
"So, kamu sudah siap bilang ya?" tanyanya lagi masih dengan seringai puasnya itu.
"Bilang ya untuk apa?"
"To make love to me."
Aku segera mengangkat wajahku dan menatapnya. Hanya menatapnya.
"I think you're ready now," tambahnya sambil nyengir lebar membalas tatapanku yang tajam itu.
"Are you sure you're not drunk, Signor?" tanyaku sambil memiringkan kepala.
Prua itu masti sedang mabuk karena pertanyaannya itu benar-benar menyebalkan. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir aku akan mengubah pendirianku hanya karena dia yang memintanya? Dia pikir siapa dirinya? Cassanova? Kalau toh betul, tetap saja aku tak tertarik. Bahkan memikirkannya pun tidak!
Bab 18
TIDAK ada yang semuram Senin padi di New York saat musim dingin. Wajah-wajah beku yang lalu-lalang di Time Square seakan berpacu melawan rasa dingin yang membuat sleuruh persendian tubuh kaku-kaku. Gumpalan hawa panas yang berembus dari mulut setiap orang membentuk kabut pucat yagn mengagntung di langit awal bulan Januari yang dingin itu. Semua pucat. Semua beku. Brrr, betapa aku merindukan Jakarta yang walaupun pengap dan polusi itu, tidak pernah membuatku ingin pipis terus seperti di sini.
Sambil merapatkan overcoat-ku yang tebal dan berat, aku tergopoh-gopoh mengikuti arus orang yang akan menyeberangi jalan. Hampir sebulan ini aku berada di New York, dan aku menikmatinya setiap detiknya, terlepas dari udaranya yang kini sedang sangat menyebalkan bagi orang-orang kampung dari tempat berhawa panas seperti diriku ini.
Dengan sedikit terengah aku mengikuti arus orang yang bergerak cepat menyeberangi jalan. Semua bergerak serba cepat di sini. Aku harus bersusah payah mengikuti ritme kehidupan di kota yang tak pernah tidur ini. Syukurlah aku mulai terbiasa walaupun belum sepenuhnya bisa menyesuaikan diri.
Tiba-tiba suara klakson menggelegar. Aku melompat kaget ketika sebuah taksi melonjak maju ke arahku. Saat itu aku berada paling belakang di anatara gerombolan New Yorker yang sedang menyeberangi jalan padat itu. Tampaknya lampu telah berubah hijau sebelum aku sampai di seberang.
Tas kerjaku yang berat terlempar ke samping. Mobil yang datang dari arah berlawanan menyenggolku sedikit hingga tubuhku limbung ke belakang. Aku langsung sadar aku akan mengalami kecelakaan. Kupejamkan mataku erat-erat, pasrah pada nasib buruk yang akan segera menimpaku di pagi yang beku itu. terbayang headline di koran esok pagi---A female expatriate from Indonesia died in a car accident. Duh Tuhan, kuberpasrah padamu, doaku khusyuk dalam hati, layaknya orang ayng sedang di ujung maut....
Bab 32
Ragusa, Italian southern peninsula.
BANGUNAN tua bergaya Mediterania itu tampak berkilau ditimpa cahaya matahari pagi. Pergola putih yang menghiasi pintu utamanya yang berbentuk setengah lingkaran pada bagain atasnya, tampak sedikit bergerak-gerak tertiup angin. Di kejauhan Laut Mediterania bagai garis lurus yang membentang membelas permukaan bumi. Langit snagat biru. Takl ada segaris pun awan yang menggantung menghiasinya.
Aku kembali melangkah mendekati bangunan tua itu. Di udara dapat kucium bau laut yang tertiup terbawa angin yang berembus pelan. Segar dan sedikit asin. Tangan kananku menahan topi jeramiku dari embusan angin. Gaun puith panjang tanpa lengan yang kukenakan berkibar pelan saat aku melangkah menyeberangi jalan sepi yang sesekali dilewati skuter tua berwarna-warni cerah.
Dengan bertanya ke seorang perawat yang berdiri di dekat meja resepsionis, akhirnya aku berhasil menemukan ruangan yang kucari. Aku menjenguk ke dalamnya. Kipas angin tampak berputar pelan di langit-langitnya yang tinggi. Jendela kayu besar di sisi ruangan terbuka lebar. Sekilas dapat kulihat di kejauhan siluet kapal-kapal laut yang berlayar di Laut Mediterania. Tempat tidur putih diletakkan di dekat jendela besar itu.
Dari seberang ruangan aku memandani sosok yang terbaring di sana. Dari tempatku berdiri dapat kudengar napasnya yang berat, walaupun masker oksigen terpasang di mulutnya.
Perlahan aku mendekatinya. Berbagai perasaan bergulat di dalam hatiku. Begitu sulit untuk menentukan apa sebenarnya yang sedang kurasakan saat aku melangkahkan kakiku mendekatinya...
------------------------------------------------
Back to : HOME