
Partisipasi dlm kampanye 1000 Buku Untuk Tunanetra dari Yayasan Mitra Netra yang ada di novel Sebelum Cahaya, bisa dibilang sebuah perpanjangan dari niatan yang dulu nggak sengaja pernah terucap.
Ketika buku itu sdh selesai ditulis, dlm salah satu diskusi dgn editor, sampailah kepada pertanyaan: ada nggak sih istilah yg dipakai untuk tongkat yg dipakai oleh kaum tunanetra? Kita tahu tongkat yg dipakai untuk berjalan disebut kruk, tapi apa ya istilah untuk tongkat yg biasa dipakai kaum tunanetra yg bisa dilipat-lipat itu?
So I did a small research in the internet. Rangkuman riset itu menghasilkan informasi yg dicantumkan dlm tulisan berjudul Kisah Tentang Tongkat Putih (White Cane) yg ada di halaman xi-xii dlm novel Sebelum Cahaya.
Dalam penjelajahan di dunia maya itulah, nggak sengaja sampai di situs Mitra Netra. Saat membaca ttg kampanye mereka itu, tiba-tiba teringat kejadian lebih setahun lalu. Waktu itu nggak sengaja lihat sekilas liputan TV ttg sebuah yayasan yg menyediakan buku-buku untuk para tunanetra. Karena lihat liputannya cuma sekilas, jadi nggak tahu nama yayasan itu. Namun satu hal yg pasti, saat itu sempat membatin dalam hati, pengen deh bantu program mereka.
Lalu sebuah ide muncul. Kenapa nggak kita cantumin saja informasi ttg kampanye itu di halaman belakang novel Sebelum Cahaya. Rasanya kok pas banget karena kebetulan tokoh Enggar dalam novel ini mengalami kecelakaan dan kehilangan semua spektrum cahaya dlm hidupnya. Dgn begitu mereka yg baca novel tsb, bisa tahu juga soal kampanye itu. Dan siapa tahu tertarik jadi relawannya.
Akhirnya disampaikanlah ide tsb ke editor. Lucunya waktu selesai cerita, si editor malah bilang, "Loh, ini kan yayasan yg mmg sudah Letto bantu selama ini."
Pucuk dicita ulam tiba. Padahal sebelumnya sama sekali nggak tahu kalau Letto dan GagasMedia mmg sdh kerjasama dgn Mitra Netra. Sebuah kebetulan manis.
------------------------------------------------
Back to : HOME