From Batavia With Love -2

Kayaknya gara-gara nulis novel yg salah satu setting tahun 1900an itu, diri ini jadi suntuk sendiri. Makin banyak referensi yg dibaca tentang Batavia tahun 1900an itu, maka makin pengen bongkar-pasang naskah tsb. Jadi banyak yang mau ditambahin. Belum lagi Sabtu ini mau ke PNRI buat lihat arsip microfilm mereka. Pasti bakal tambah njelimet. Naskah ini memang sudah selesai, tapi pengen di-improve lagi. Tahu nih gimana input dari editornya.
Anyway, banyak yang bisa dipelajari saat nulis naskah ini. Salah satunya pengetahuan sejarah yang melejit tinggi—khususnya tentang Batavia. Lucu juga karena sebagai orang yang punya darah Betawi dari pihak ibu, ternyata pengetahuan diri ini soal suku tsb bisa dibilang minim. Ternyata leluhur keluarga ini hasil percampuran dari berbagai suku/etnik—Jawa, Arab, Sunda, Bali, Belanda, India, Ambon, Portugis, Sumbawa, China, Moor, dll… Cck, ckk, no wonder orang Betawi doyan gado-gado, habisnya asal-usulnya juga campur-aduk kayak gado-gado gitu.
Satu lagi yang didapat saat riset Batavia Tempo Doeloe—yaitu tentang Johannes Rach. Edan, karyanya benar-benar membuat terpukau. Bagus juga kalau bisa pakai salah satu karyanya sebagai cover novel ini.
Ini lagi salah satu karyanya: Estate van der Parra on Jacatra road atau Rumah Gubernur Jenderal Petrus Albertus van de Parra di Jalan Jacatra (Sekarang Jalan Pangeran Jayakarta).

Ciao!
Lala
------------------------------------------------
Back to : HOME