------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Jakarta - Indonesia
-------------------------------------------------------------------- a Fiction Writer
-------------------------------------------------a Fiction Writer











Buku-buku Karla terdiri dari Metropop dan novel umum.
Untuk info lengkap, klik sub judul di bawah setiap ikon novel.


Other Spots:
GUESTBOOK
Let's Write A Novel


----------------------------------------

Komentar lama di Chatbox ini akan otomatis terhapus. Untuk
meninggalkan komentar yg permanen, silahkan isi GUESTBOOK,
atau di READER'S COMMENT di setiap posting

   




Karla M. Nashar on Facebook






If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, January 02, 2009
FOREVER YOURS - Synopsis + Excerpt

FOREVER YOURS

Selalu ada ruang hati untuk cinta
13 x 19 cm - 292 hlm
Gagas Media

 

 

Synopsis

 

Seketika itu juga ia menyesal telah bertanya. Ia menyesalinya karena---entah mengapa---ia bertanya dengan nada dan tatapan yang biasa ia gunakan jika ingin menarik perhatian seorang pria. Astaga! Pasti Uben mengira ia sedang menggodanya. Seorang pengacara meggoda penjaga ladang? Di mana logikanya?

 

Cinta atau nafsu---perang yang dihadapi Adinda ketika bertemu Uben. Fakta bahwa Adinda adalah pengacara ibukota dan Uben yang hanya seorang penjaga ladang harusnya cukup menggembalikan akal sehatnya. Yang terjadi justru sebaliknya.  Laki-laki itu mampu membuatnya merelakan hidupnya berubah total. Namun, saat Adinda benar-benar memercayakan hatinya di tangan laki-laki itu, sebuah kebenaran muncul dan menampar telak semua yang diyakininya selama ini. Masih tersisakah ruang di hatinya untuk Uben setelah mengetahui siapa lelaki itu sebenarnya?

 

 

---------------------------

Excerpt 

 

Bab Satu

 

"DINDA!!!"

Markus berteriak keras dari meja kerjanya ke arah rekannya yang sedang melintas di koridor kantor mereka. Sebagai pemimpin Markus Adityatama & Rekan, ia memang sering dibuat pusing oleh tingkah para rekan pengacaranya yang terkadang saling jontok rebutan klien. Kali ini, masalahnya adalah Adinda Putri Majesty, salah satu pengacara firmanya yang paling drop death gorgeous, sekaligus paling berdarah dingin, jika sudah menginginkan sesuatu di kepalanya.

Adindamelangkah masuk dengan dahi berkerut. Wajahnya yang bertulang pipi tinggi layaknya para model, memancarkan rasa tidak suka. Jika si tambun Markus sudah mulai berteriak memanggil dengan nada falseto setinggi tiga oktaf seperti saat itu, pastinya ada sesuatu yang teramat penting. Ia dapat melihat dengan jelas leher penuh lemak bosnya itu semakin berlipat-lipat karena cemberut.

"Apa maksudnya ini?" tanya Markus sambil melempar selembar surat ke atas meja.

Adinda hanya meliriknya sekilas, acuh tak acuh. Ia tahu surat apa itu. Surat dari Sandria Grace Malarka yang meminta dirinya untuk menjadi kuasa hukumnya. Sejujurnya, Adinda telah memiliki salinan surat itu sejak kemarin. Hanya seminggu waktu yang dibutuhkannya untuk mendekati si artis terkenal yang mau bercerai itu. Sekarang, ia mendapat kepercayaan wanita itu sebagai kuasa hukumnya.

Namun, bukan karena itu Markus berteriak memanggil Adinda. Bukan karena ia tidak suka Adinda mewakili Sandria. Masalahnya, Eddy Malarka, suami Sandria, telah bertahun-tahun menjadi klien mereka. Jelas tidak mungkin jika dalam perceraian nanti kedua orang tersebut diwakili oleh firma yang sama.

"Tahu, kan, kalau Eddy Malarka sudah jadi pegangan si Mariskha?" tekan Markus menyebutkan nama rekan sefirma mereka, yang juga menjadi saingan utama Adinda. Selama ini, Adinda dan Mariskha bersaing ketat untuk memegang rekor tertinggi mendapatkan klien dan memenangi kasus.

 

 

 

Bab Tiga

 

"Heh, tunggu! Tunggu!" Adinda mengejarnya. "Tadi pagi, sudah kamu betulin? Terus, apanya yang rusak? Kenapa tidak bisa langsung oke? Pasti bisa jalan lagi, kan? Mobil saya itu tidak pernah telat diservis. Jadi, rusaknya pasti bukan yang berat-berat. Mungkin, cuma busi atau sekrup lainnya yang longgar. Coba saja kamu balik ke sana sekarang. Cek sekali lagi…."

"Nggak bisa," jawab Uben cepat.

"Kenapa?"

"Saya sudah bilang tadi kalau saya harus manen."

"Tapi, mobil saya lebih penting."

"Siapa bilang?"

"Ya, saya, dong!" dengus Adinda sebal. "Saya punya urusan penting yang harus segera saya selesaikan di Lembang. Setelah itu, saya harus balik ke Jakarta secepatnya."

"Kalau begitu sama."

"Sama? Kamu juga harus ke Jakarta?"

"Bukan. Sama. Saya juga punya urusan penting."

"Oh, ya? Apa?"

"Manen."

Bah! Adinda merasakan kedongkolannya melonjak tinggi. Dasar kampung! Nggak tahu apa kalau urusanku jauh lebih penting daripada panen kubis sialan itu?

"Oke. Kamu minta tambahan berapa?" tanya Adinda memutuskan menantang Uben secara langsung. Setelah dipikir-pikir, pasti alasan Uben menunda perbaikan mobilnya itu cuma karena uang. Lelaki itu minta tambahan upah. Pasti begitu!

 

------------------------------------------------ 

 

Back to : HOME

 

Posted at 09:02 pm by LALA
Comments (20)  

Previous Page Next Page